Tampilkan postingan dengan label Homeschool. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Homeschool. Tampilkan semua postingan
Selasa, 22 November 2011
Kemewahan Tak Berbayar 1 - Art & Bible
Sudah lama saya merindukan mempelajari Alkitab dengan suatu sensasi yang kuat seperti ketika membaca ugly duckling, sebuah karya dengan ide yang sangat bagus dan ilustrasi cat air yang sangat indah. Malam itu kami berkesempatan menikmati lukisan-lukisan mahakarya. Lukisan, menurut Charlotte Mason adalah sebuah bentuk pemikiran manusia yang bukan hanya harus indah, tetapi juga mengandung nilai moral dan intelektual.
Saya melihat mata Via berbinar-binar menikmati karya-karya Rembrandt. Saya membiarkannya memiliki waktu sendiri dengan setiap lukisan tersebut. Ketika Kami membuka lukisan Cross Raising, Via bertanya, "ma, Kenapa Yesus di salibkan?". Yohanes 3:16 "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal".
Setelah hari itu, betapa mudahnya membacakan kisah-kisah Alkitab kepada Via.
Charlotte Mason berkata, bahwa esensi pendidikan adalah bersifat spiritual. Kita sebagai orang tua bertanggung jawab menanamkan benih ke dalam benak anak. Benih itu dipercaya akan teerus bertumbuh. Saya berdoa, benih kasih Allah terus bertumbuh dalam hidup Via
Siapa bilang, belajar itu harus mahal? Kami menikmati lukisan mahakarya dan prinsip karya keselamatan Yesus secara gratis dan nyaman. Kalau begini, jangan minta saya memasukkan Via ke sekolah yang kering dan menjemukan ya! ^_^
Label:
art,
bible study,
Homeschool,
Kemewahan tak Berbayar
Senin, 21 November 2011
A Charlotte Mason Education - A Home Schooling How-To Manual
My rating: 2 of 5 stars
Buku ini adalah buku paling ringan (baca : kering) dari semua buku mengenai pendidikan Charlotte Mason yang pernah aku baca. Bukunya cukup tipis, terdiri dari beberapa bab yang terdiri dari a how-to dari narasi, math, literature, bahasa asing, menulis indah, spelling, grammar, science, prakarya, Alkitab, apresiasi seni dan apresiasi musik. Masing-masing bab terdiri dari dua sampai empat halaman, sudah termasuk daftar buku yang dipakainya dalam mempelajari setiap subjek bab tersebut yang daftarnya akan aku posting kemudian. Di akhir buku, terdapat contoh jadwal mingguan pendidikan menggunakan metode Charlotte Mason untuk setiap gradenya. Dan hanya itu.
Kering, hanya berisi fakta-fakta kering, tanpa diselimuti bahasa literali, seperti ini nampaknya yang dimaksud CM sebagai textbook. Daftar bukunya mungkin bermanfaat (saya sendiri belum mendalami bagaimana kualitas buku yang dipakainya). Tapi saya sangat tidak menyarankan buku ini untuk mereka yang baru mencoba mendalami pendidikan ala Charlotte Mason mengingat CM bukan sekedar kurikulum yang tinggal comot langsung bisa dipakai, bukan juga sekedar memakai living book dalam proses pembelajaran dan banyak melakukan nature walk kemudian semerta-merta berkata bahwa itu cuku untuk menjadi CMer.
CM companion oleh Karen Andreola rasanya jauh lebih menggigit dalam mengupas metode CM ini. Jadi buku Levinson ini menurut saya, kalau diperoleh dengan harga murah, masih bolehlah untuk dimiliki, tetapi free e-book dari Sonya Safer masih dapat menjawab kebutuhan mengenal metode CM.
View all my reviews
Label:
Charlotte Mason,
Homeschool,
Mom's Reading List
Minggu, 20 November 2011
Winnie-the-Pooh by A.A. Milne
Kapasitas intelektual anak berkembang mendahului keterampilan motoriknya. Tidak perlu menunggu anak lancar membaca atau menulis sebelum dia mulai menikmati buku-buku bagus. Pelajaran formal menulis dan membaca baru akan kita mulai saat ia berumur enam tahun, tapi sejak dini kita bisa membacakannya karya-karya literatur yang indah, dan sejak kelas satu ia sudah mulai bisa membuat narasi atas karya-karya itu. Kosakata dan keruntutan logika bahasa anak dengan sendirinya akan naik ke standar bacaannya. - Ringkasan Vol. 6 A Philosophy of Education, pp. 22-32 (8) diterjemahkan oleh Ellen Kristi
Semakin Via besar, saya semakin sering takjub dengan kebenaran hikmat yang dituliskan oleh Charlotte Mason. Saya sering menemukannya bekerja seperti ayat Alkitab. Baca, renungkan, lakukan, dan nikmati hasilnya. Kali ini kekaguman itu datang ketika Via mau dibacakan novel Winnie the Pooh. Saya ingat sekali buku ini saya beli pertama kali saya mencoba membeli buku secara online sekitar dua tahun yang lalu karena mengacu daftar buku Year ) di Situs Ambleside Online. Ketika buku ini datang, saya bingung sendiri, dan bertanya-tanya apakah saya salah seri dari buku yang di sarankan? Bagaimana tidak, buku A.A Milne yang saya terima tebalnya sekitar 150 halaman, dengan kertas cetakan coklat buram, minim gambar dan sama sekali tidak berwarna. Oh, jauh sekali dari bayangan buku yang cocok untuk gadis kecilku yang bulan depan baru berusia 4 tahun. Akhirnya buku itu tersimpan rapi di lemari menunggu untuk di comot. Sekitar tempat hari yang lalu, entah mimpi apa Via mengambil buku itu ketika saatnya bedtime story hampir dimulai. Sambil agak skeptis kami akan menikmati buku itu, sesi read aloud pun dimulai. Ternyata buku A.A Milne benar-benar seperti menyihir kami. Malam itu kami lewati dengan canda membayangkan tingkah Pooh yang sangat lucu, diselingi dengan lagu-lagu yang asik, rasanya sesi read aloud kami sangat sayang untuk disudahi. Saya menyudahi waktu baca kami karena Via sudah terlihat sangat mengantuk, di halaman 10 bab pertama dari chapter book itu. Tidak disangka, besok paginya, hal pertama yang dicari oleh Via sebangunnya dari tidurnya adalah buku Pooh itu. Akhirnya bedtime story berlanjut di morningtime story, yang Vis lanjutkan dengan mencicipi sesendok teh madu. Ini bukan pertama kalinya Via meminum madu, tapi saya tau bahwa pagi itu Via meminum madu dengan sensasi yang berbeda.
Ayah Via melihat minat baca Via itu, sepertinya tersenyum dengan senyuman yang sepertinya meneguhkan bahwa keputusan kami untuk mendidik anak kami secara mandiri adalah keputusan yang terbaik.
Saya pribadi semakin jatuh cinta dengan Charlotte Mason. Dengan hikmatnya, saya seperti memiliki seorang ibu angkat yang sangat bijaksana, yang menuntun saya menyediakan pendidikan terbaik untuk anak kami. I'm proud to say that I'm a CMer! ^_^
Semakin Via besar, saya semakin sering takjub dengan kebenaran hikmat yang dituliskan oleh Charlotte Mason. Saya sering menemukannya bekerja seperti ayat Alkitab. Baca, renungkan, lakukan, dan nikmati hasilnya. Kali ini kekaguman itu datang ketika Via mau dibacakan novel Winnie the Pooh. Saya ingat sekali buku ini saya beli pertama kali saya mencoba membeli buku secara online sekitar dua tahun yang lalu karena mengacu daftar buku Year ) di Situs Ambleside Online. Ketika buku ini datang, saya bingung sendiri, dan bertanya-tanya apakah saya salah seri dari buku yang di sarankan? Bagaimana tidak, buku A.A Milne yang saya terima tebalnya sekitar 150 halaman, dengan kertas cetakan coklat buram, minim gambar dan sama sekali tidak berwarna. Oh, jauh sekali dari bayangan buku yang cocok untuk gadis kecilku yang bulan depan baru berusia 4 tahun. Akhirnya buku itu tersimpan rapi di lemari menunggu untuk di comot. Sekitar tempat hari yang lalu, entah mimpi apa Via mengambil buku itu ketika saatnya bedtime story hampir dimulai. Sambil agak skeptis kami akan menikmati buku itu, sesi read aloud pun dimulai. Ternyata buku A.A Milne benar-benar seperti menyihir kami. Malam itu kami lewati dengan canda membayangkan tingkah Pooh yang sangat lucu, diselingi dengan lagu-lagu yang asik, rasanya sesi read aloud kami sangat sayang untuk disudahi. Saya menyudahi waktu baca kami karena Via sudah terlihat sangat mengantuk, di halaman 10 bab pertama dari chapter book itu. Tidak disangka, besok paginya, hal pertama yang dicari oleh Via sebangunnya dari tidurnya adalah buku Pooh itu. Akhirnya bedtime story berlanjut di morningtime story, yang Vis lanjutkan dengan mencicipi sesendok teh madu. Ini bukan pertama kalinya Via meminum madu, tapi saya tau bahwa pagi itu Via meminum madu dengan sensasi yang berbeda.
Ayah Via melihat minat baca Via itu, sepertinya tersenyum dengan senyuman yang sepertinya meneguhkan bahwa keputusan kami untuk mendidik anak kami secara mandiri adalah keputusan yang terbaik.
Saya pribadi semakin jatuh cinta dengan Charlotte Mason. Dengan hikmatnya, saya seperti memiliki seorang ibu angkat yang sangat bijaksana, yang menuntun saya menyediakan pendidikan terbaik untuk anak kami. I'm proud to say that I'm a CMer! ^_^
Label:
Charlotte Mason,
Homeschool,
Via's Reading List
Jumat, 18 November 2011
Kurikulum yang Kaya
"Having eyes, but not seeing beauty; having ears, but not hearing music; having mind, but not percieving truth; having hearths that never moved and therefore never set on fire. These are the things to fear in life" Toto-chan's school headmaster.
Membaca quote milik kepala sekolah Tomoe ini, tidakkah membawa perenungan untukmu? Karena itu membuatku merenung. Keinginanku untuk mendidik Via secara mandiri rasanya semakin diteguhkan. Melihat kurikulum yang hari-hari ini dipakai oleh kebanyakan sekolah. Dalam satu tahun, berapa lukisan mahakarya yang mereka nikmati? Berapa banyak musik hasil gubahan komposer besar yang mereka dengarkan? Berapa banyak textbook mereka yang memberikan pencerahan spiritual maupun gejolak pikiran dan pencerahan? Sayang sekali harus diakui, hal-hal yang ditakutkan oleh kepala sekolah Tomoe, terjadi di kebanyakan sekolah kita.
Charlotte Mason menawarkan suatu metode yang sangat kaya. Bagaimana tidak, alih-alih menggunakan textbook sebagai media belajarnya, CM memilih menggunakan buku utuh atau yang sering disebut "living book/real book". Living book terasa sekali enak dinikmati seperti ketika masuk subject sejarah. Selama ini banyak kita temui textbook pelajaran sejarah yang membosankan karena hanya berisi fakta yang kering seperti nama tempat, tokoh yang terlibat, dan peristiwa. Bukankah lebih menyenangkan ketika semuanya itu dibungkus dengan emosi para tokoh yang terlibat di dalamnya. Dengan begitu, subject sejarah menjadi lebih hidup karena semangat heroik, takut, dan mungkin penghianatan menghiasi alur cerita. Cobalah baca ini atau ini. Bukankah itu lebih menarik untuk dibaca, dan bukankah itu menggugah hati dan mungkin mengobarkan suatu semangat?
Mengenai musik dan seni, Charlotte Mason menarik standard jangan pernah turun dari yang terbaik. Tidak heran, dalam kurikulum yang berkiblat pada metode CM akan kaya dengan pengenalan lukisan mahakarya dan musik-musik gubahan komposer besar dunia. Setiap term (4 bulan), model pendidikan yang berkiblat pada metode CM akan mengenal lebih dalam enam lukisan mahakarya dari satu pelukis dan juga enam musik gubahan dari satu komposer dunia.
Jadi, kenapa menyerah dengan sekolah dan paket kurikulum yang ada sekarang, sementara kita bisa menikmati indahnya kekayaan karya manusia dengan cara yang sangat indah dan menyenangkan (dan mungkin juga lebih murah dari banyak sekolah swasta di kota besar)?
Saya memilih untuk menghadirkan kekayaan karya Tuhan dan manusia kepada Via dalam proses pembelajarannya. Bagaimana denganmu? ^_^
Membaca quote milik kepala sekolah Tomoe ini, tidakkah membawa perenungan untukmu? Karena itu membuatku merenung. Keinginanku untuk mendidik Via secara mandiri rasanya semakin diteguhkan. Melihat kurikulum yang hari-hari ini dipakai oleh kebanyakan sekolah. Dalam satu tahun, berapa lukisan mahakarya yang mereka nikmati? Berapa banyak musik hasil gubahan komposer besar yang mereka dengarkan? Berapa banyak textbook mereka yang memberikan pencerahan spiritual maupun gejolak pikiran dan pencerahan? Sayang sekali harus diakui, hal-hal yang ditakutkan oleh kepala sekolah Tomoe, terjadi di kebanyakan sekolah kita.
Charlotte Mason menawarkan suatu metode yang sangat kaya. Bagaimana tidak, alih-alih menggunakan textbook sebagai media belajarnya, CM memilih menggunakan buku utuh atau yang sering disebut "living book/real book". Living book terasa sekali enak dinikmati seperti ketika masuk subject sejarah. Selama ini banyak kita temui textbook pelajaran sejarah yang membosankan karena hanya berisi fakta yang kering seperti nama tempat, tokoh yang terlibat, dan peristiwa. Bukankah lebih menyenangkan ketika semuanya itu dibungkus dengan emosi para tokoh yang terlibat di dalamnya. Dengan begitu, subject sejarah menjadi lebih hidup karena semangat heroik, takut, dan mungkin penghianatan menghiasi alur cerita. Cobalah baca ini atau ini. Bukankah itu lebih menarik untuk dibaca, dan bukankah itu menggugah hati dan mungkin mengobarkan suatu semangat?
Mengenai musik dan seni, Charlotte Mason menarik standard jangan pernah turun dari yang terbaik. Tidak heran, dalam kurikulum yang berkiblat pada metode CM akan kaya dengan pengenalan lukisan mahakarya dan musik-musik gubahan komposer besar dunia. Setiap term (4 bulan), model pendidikan yang berkiblat pada metode CM akan mengenal lebih dalam enam lukisan mahakarya dari satu pelukis dan juga enam musik gubahan dari satu komposer dunia.
Jadi, kenapa menyerah dengan sekolah dan paket kurikulum yang ada sekarang, sementara kita bisa menikmati indahnya kekayaan karya manusia dengan cara yang sangat indah dan menyenangkan (dan mungkin juga lebih murah dari banyak sekolah swasta di kota besar)?
Saya memilih untuk menghadirkan kekayaan karya Tuhan dan manusia kepada Via dalam proses pembelajarannya. Bagaimana denganmu? ^_^
Langganan:
Postingan (Atom)
